Senin, 18 Juli 2011

KEHIDUPAN AKHIRAT

HARI AKHIRAT
Ibnu Hisyam dalam Sirah-nya menuturkan  sebuah  riwayat  bahwa Nabi  Saw.  setelah  selesainya  Perang  Badar,  menuju tempat pemakaman pemuka-pemuka kaum musyrik yang  tewas  ketika  itu, dan memanggil nama-nama mereka satu per satu:
  "Wahai penghuni al-qalib (sumur atau kubur). Hai 'Utbah bin Rabi'ah. Hai Syaibah bin Rabi'ah. Hai Umayyah bin Khalaf. Hai Abu Jahl bin Hisyam. Apakah kalian telah menemukan apa yang dijanjikan Tuhan    kalian dengan benar? Karena sesungguhnya aku telah    menemukan apa yang dijanjikan Tuhanku dengan benar."    Kaum Muslim yang ada di sekitar Nabi bertanya: "Wahai    Rasulullah, apakah engkau memanggil/berbicara dengan    kaum yang telah menjadi bangkai (mati)?" Beliau    menjawab: "Kamu tidak lebih mendengar dari mereka    (tentang) apa yang saya ucapkan, hanya saja mereka tidak dapat menjawab saya."

Di sisi lain Imam Muslim meriwayatkan bahwa Masruq berkata:
"Kami bertanya (atau aku bertanya) kepada Abdullah bin Mas'ud tentang mayat, Janganlah kamu mengira orang-orang yang gugur di jalan Allah adalah    orang-orang mati, bahkan mereka hidup di sisi Tuhan mereka dengan mendapatkan rezeki (QS Ali 'Imran [2]:169)."

Abdullah bin Mas'ud berkata: "Sesungguhnya kami telah menanyakan hal itu kepada Rasulullah Saw., dan    beliau bersabda, 'Arwah mereka di dalam rongga burung(berwarna) hijau dengan pelita-pelita yang tergantung di 'Arsy, terbang dengan mudah di surga ke manapun mereka kehendaki, kemudian kembali lagi ke pelita-pelita itu. Tuhan mereka "mengunjungi" mereka dengan kunjungan sekilas dan berfirman: "Apakah kalian menginginkan sesuatu?" Mereka menjawab: "Apalagi yang kami inginkan sedangkan kami terbang dengan mudahaya di surga, ke mana pun kami kehendaki?" Tuhan melakukan hal yang demikian terhadap mereka tiga kali dan ketika mereka sadar bahwa mereka tidak akan dibiarkan tanpa  meminta sesuatu, mereka berkata: "Wahai Tuhan, kami ingin agar arwah kami dikembalikan ke jasad kami sehingga kami dapat gugur terbunuh pada jalan-Mu (sabilillah) sekali lagi. Setelah Tuhan melihat bahwa mereka tidak memiliki keinginan lagi di sana (lebih dari apa yang mereka peroleh selama ini) maka mereka dibiarkan."'

Ada juga riwayat yang dinisbahkan kepada Ali  bin  Abi  Thalib bahwa beliau  bertanya  kepada  Yunus  bin Zibyan: "Bagaimana pendapat  orang  tentang  arwah  orang-orang  mukmin?"   Yunus menjawab:  "Mereka  berkata  bahwa  arwahnya  berada di rongga burung berwarna hijau di dalam pelita-pelita  di  bawah  'Arsy Illahi."

Ali bin Abi Thalib berkomentar: “Mahasuci Allah. Seorang mukmin lebih mulia di sisi Allah untuk ditempatkan ruhnya di rongga burung hijau, wahai Yunus. Seorang mukmin bila diwafatkan Allah, ruhnya ditempatkan pada satu wadah sebagaimana wadahnya ketika di dunia. Mereka makan dan minum, sehingga bila ada yang datang kepadanya, mereka mengenalnya dengan keadaannya semasa di dunia”.

Boleh jadi ada saja yang  bertanya  bagaimana  kehidupan  itu? Kita  tidak  dapat  menjelaskan. Memang ada saja yang berusaha mengilmiahkan kehidupan di sana, tetapi agaknya  hal  tersebut lebih banyak merupakan  kemungkinan,  walaupun  ada  sekian riwayat yang dijadikan pegangan.

Mustafa Al-Kik, misalnya, berpendapat bahwa  manusia  memiliki "jasad  berganda":  pertama,  jasad  duniawi; dan kedua, jasad barzakhi. Mustafa dalam --Baina  'Alamain--  setelah  mengutip sekian  banyak  pendapat  ulama  tentang hal di atas, berusaha untuk menjelaskan hal  tersebut  dengan  teori  frekuensi  dan gelombang-gelombang  suara. Contoh konkret yang dikemukakannya adalah radio yang dapat menangkap  sekian  banyak  suara  yang berbeda-beda  melalui gelombang yang berbeda-beda. Walaupun ia saling  masuk-memasuki,  namun  ia  tidak  menyatu  dan  tetap berbeda.  Ini  pula  yang  menjadikan  kita  tak dapat melihat sesuatu yang sebenarnya "ada" namun kita tak melihatnya akibat perbedaan  frekuensi  dan  gelombang-gelombang  itu.  Apa yang dikemukakan ini -menurutnya sejalan dengan informasi Al-Quran, antara lain yang berbicara tentang keadaan seorang yang sedang sekarat: Maka mengapa ketika nyawa telah sampai ke kerongkongan, padahal kamu ketika itu melihat (yang sekarat), sedangkan (malaikat) Kami lebih dekat kepadanya darimu, tetapi kamu tidak melihat (QS AlWaqi'ah [56]: 83-85).

Atau firman-Nya:   Aku (Allah) tidak bersumpah dengan apa yang kamu lihat dan yang kamu tidak lihat (QS Al-Haqqah [69]: 38-39).

Kedua ayat mulia di atas mengemukakan teori gelombang dan getaran yang sangat jelas dan gamblang. Keduanya telah membagi materi menjadi dua macam, yang sejalan dengan tingkat bumi sehingga dapat dilihat oleh mata, dan yang tidak sejalan karena tingginya gelombangnya, sehingga tersembunyi dari pandangan dan tidak terlihat oleh mata. Dengan demikian kedua ayat tersebut menunjuk ke alam materi yang terasa oleh kita semua, dan alam lain yang tinggi yang tersembunyi dari mata kita. Teori ini juga menafsirkan kepada kita jawaban Nabi Saw. ketika kaum Muslim mempertanyakan pembicaraan beliau dengan Ahl Al-Qalib (tokoh-tokoh kaum musyrik yang gugur dalam peperangan Badar) sebagaimana dikemukakan di atas. (Mustafa Al-Kik dalam Baina 'Alamain hlm. 51)

Akhirnya  betapa  pun  terdapat  sekian  banyak  ayat   dengan penafsiran-penafsiran  di atas, serta ada pula riwayat-riwayat dari berbagai sumber dan  kualitas,  namun  kita  tidak  dapat mencap  mereka  yang  mengingkari  kehidupan  barzakh, sebagai orang-orang yang  keluar  dari  keimanan  atau  ajaran  Islam, selama  mereka  tetap  mengucapkan  dua  kalimat syahadat. Ini disebabkan karena akidah harus diangkat  dari  nash  keagamaan yang  pasti,  yaitu  Al-Quran  dan  maknanya  pun harus pasti. sedangkan penafsiran- penafsiran yang dikemukakan di atas belum mencapai tingkat kepastian yang dapat dijadikan akidah.

Dr. M. Quraish Shihab, M.A.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tanda-tanda Ikhlas Seorang Hamba

1. Tidak mencari popularitas

2. Tidak rindu pujian dan tidak terkecoh pujian

3. Tidak silau dan cinta jabatan

4. Tidak diperbudak imbalan dan balas budi

5. Tidak mudah kecewa