Senin, 18 Juli 2011

KEHIDUPAN AKHIRAT

BUAH KEPERCAYAAN TENTANG HARI KEBANGKITAN

Al-Quran menghendaki agar keyakinan  akan  adanya  hari  akhir mengantar  manusia untuk melakukan aktivitas-aktivitas positif dalam kehidupannya, walaupun aktivitas itu tidak  menghasilkan keuntungan  materi  dalam kehidupan dunianya. Salah satu surat yang berbicara tentang hal ini adalah surat Al-Ma'un (107).
Dalam beberapa riwayat, dikemukakan bahwa surat tersebut turun berkenaan  dengan Abu Sufyan atau Abu Jahl, yang setiap minggu menyembelih seekor unta.  Suatu  ketika,  seorang  anak  yatim datang  kepadanya meminta sedikit daging yang telah disembelih itu, namun ia tidak diberi bahkan dihardik dan diusir.
Surat Al-Ma'un dimulai dengan satu pertanyaan: “Tahukah kamu orang yang mendustakan ad-din?”
Kata ad-din dalam surat ini, secara sangat populer, diartikan dengan agama,  tetapi ad-din dapat juga berarti pembalasan. Dengan demikian yukadzdzibu  biddin dapat pula berarti mengingkari hari pembalasan atau hari akhir. Pendapat terakhir ini didukung oleh pengamatan yang menunjukkan  bahwa  Al-Quran bila menggandengkan kata ad-din dengan yukadzdzibu, maka konteknya adalah pengingkaran terhadap hari kiamat. Perhatikan surat Al-Infithar (82): 9 dan juga surat Al-Tin (95): 7.
Kemudian, kalau kita kaitkan makna terakhir ini dengan sikap mereka yang enggan membantu anak yatim atau orang miskin karena menduga bahwa  bantuannya kepada mereka  tidak menghasilkan apa-apa, maka itu berarti bahwa pada hakikatnya sikap mereka itu adalah sikap orang-orang yang tidak percaya akan adanya (hari) pembalasan. Bukankah yang percaya meyakini bahwa  kalaulah bantuan yang diberikannya tidak menghasilkan sesuatu di dunia, maka pasti ganjaran atau balasan perbuatannya akan diperoleh di akhirat kelak? Bukankah yang percaya hari kemudian meyakini bahwa Allah tidak menyia-nyiakan amal baik seseorang, betapa pun kecilnya?
Seseorang yang kehidupannya dikuasai oleh kekinian dan kedisinian, tidak akan memandang ke hari kemudian yang berada di depan sana. Sikap demikian  merupakan pengingkaran atau pendustaan ad-din, baik dalam arti "agama",  lebih-lebih  lagi dalam arti hari kemudian.
Ad-din menuntut adanya kepercayaan kepada yang gaib. Kata gaib di sini, bukan sekadar kepercayaan kepada Allah atau  malaikat tetapi  ia  berkaitan  dengan banyak hal, termasuk janji-janji Allah melipatgandakan anugerah-Nya kepada setiap orang yang memberi bantuan. Kepercayaan ini  mengantarkannya  meyakini janji Ilahi itu, melebihi keyakinannya menyangkut segala sesuatu yang  didasari oleh perhitungan-perhitungan akalnya semata-mata. Sehingga ketika itu, walaupun akalnya membisikkan bahwa "sikap yang akan  diambilnya merugikan/tidak menguntungkan", namun jiwanya yang percaya itu mengantar-kannya untuk melakukannya karena yang demikian sejalan dengan keyakinannya itu.
"Apa yang berada di tangan Allah lebih meyakinkan Anda daripada apa yang terdapat dalam genggaman tangan sendiri."
Dengan pertanyaan tersebut, ayat pertama  surat  Al-Ma'un  ini mengajak  manusia  untuk  menyadari  salah  satu  bukti  utama kesadaran beragama atau kesadaran  berkeyakinan  tentang  hari akhir,  yang  tanpa itu, keberagamaannya dinilai sangat lemah, kalau enggan berkata keberagamaannya nihil.
Surat Al-Ma'un yang terdiri dari tujuh ayat pendek ini,berbicara tentang  suatu hakikat yang sangat penting, di mana terlihat secara tegas dan jelas  bahwa ajaran Islam tidak memisahkan upacara ritual dan ibadah sosial, atau membiarkannya berjalan sendiri-sendiri. Ajaran ini sebagaimana tergambar  dalam ayat di atas -menekankan bahwa ibadah dalam pengertiannya yang sempit pun mengandung dalam jiwanya dimensi sosial, sehingga jika jiwa ajaran tersebut tidak dipenuhi maka pelaksanaan ibadah dimaksud tidak akan banyak artinya.
Sayyid Quthb dalam tafsirnya Fi Zhilal Al-Qur'an menulis:
Mungkin ini (jawaban Al-Quran tentang siapa  yang  mendustakan agama/hari   kemudian yang dikemukakan dalam surat ini) mengagetkan jika dibandingkan dengan pengertian iman secara tradisional. Tetapi, yang demikian itulah inti persoalan dan hakikatnya. Hakikat pembenaran ad-din bukannya  ucapan  dengan lidah, tetapi ia adalah perubahan dalam jiwa yang mendorong kepada kebaikan dan kebajikan terhadap saudara-saudara sekemanusiaan, terhadap mereka yang membutuhkan pelayanan dan perlindungan. Allah tidak menghendaki dari manusia kalimat-kalimat yang dituturkan, tetapi yang dikehendaki-Nya adalah karya-karya nyata, yang membenarkan  (kalimat yang diucapkan itu). Sebab kalau tidak, maka itu semua hampa tidak berarti di sisi-Nya dan tidak dipandang-Nya.
Selanjutnya Sayyid Quthb menulis:
Kita tidak ingin memasuki diskusi dalam bidang  hukum  sekitar batas-batas  iman  dan Islam, karena batasan-batasan para ahli itu, berkaitan dengan interaksi  sosial  keagamaan.  Sedangkan surat  ini  (Al-Ma'un) menegaskan hakikat persoalan dari sudut pandang dan penilaian  Ilahi,  yang  tentunya  berbeda  dengan kenyataan-kenyataan  lahiriah  yang menjadi landasan penilaian interaksi antarmanusia.
Demikian surat ini menjelaskan hakikat  dan  buah  kepercayaan tentang hari akhir.
Akhirnya perlu digarisbawahi bahwa perhatian Al-Quran yang sedemikian besar menyangkut persoalan hari akhir, membawa berbagai dampak di kalangan ilmuwan, agamawan, dan filosof. Antara lain berupa kegiatan diskusi yang  menyita waktu dan energi mereka, khususnya detail kebangkitan tersebut apakah kebangkitan ruh dan jasad atau hanya ruh saja.
Dalam hal ini kita ingin menggarisbawahi bahwa seorang Muslim dituntut oleh agamanya untuk meyakini adanya hari kebangkitan setelah kematiannya di mana ketika itu ia menyadari eksistensi dirinya secara sempurna. Apa pun bentuk kebangkitan tersebut -apakah dengan ruh dan jasad atau dengan ruh saja- yang  pokok adalah bahwa ketika itu setiap manusia mengenal dirinya, tidak kurang dari pengenalannya ketika ia hidup di dunia.
Adapun keterangan tentang hakikat kebangkitan, bentuk, waktu dan  tempat-nya,  maka  kesemua hal ini berada di luar tuntunan agama. Karena itu, sangat boleh jadi pembahasan  para  filosof dan  ulama  tentang  soal  tersebut lebih banyak didorong oleh kepentingan  kepuasan   penalaran   akal daripada dorongan kehangatan iman.
Wa Allahu 'Alam.
Dr. M. Quraish Shihab, M.A.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tanda-tanda Ikhlas Seorang Hamba

1. Tidak mencari popularitas

2. Tidak rindu pujian dan tidak terkecoh pujian

3. Tidak silau dan cinta jabatan

4. Tidak diperbudak imbalan dan balas budi

5. Tidak mudah kecewa