Senin, 18 Juli 2011

KEHIDUPAN AKHIRAT

KEHIDUPAN AKHIRAT

Kehidupan akhirat dimulai dengan peniupan sangkakala:
Maka apabila sangkakala ditiup sekali tiup, dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali bentur. Maka hari itu terjadilah hari kiamat, dan terbelahlah langit sehingga hari itu langit menjadi lemah (QS Al-Haqqah [69]: 13-16).
Dalam ayat lain dijelaskan bahwa:
  “ ... dan ditiup sangkakala sehingga matilah siapa (makhluk) yang di langit dan di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah” (QS Al-Zumar [39]: 68).
Yang dikecualikan antara lain  adalah  malaikat  Israfil  yang bertugas  meniup  sangkakala  itu.  Ini  karena masih akan ada peniupan kedua sebagaimana lanjutan ayat di atas:
Kemudian ditiupkan sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka (semua yang telah mati) berdiri menunggu (putusan Tuhan terhadap masing-masing) (QS Al-Zumar [39]: 68).
Banyak sekali ayat Al-Quran yang berbicara tentang  kehancuran alam  raya, matahari digulung, bulan terbelah, bintang-bintang pudar cahayanya, gunung dihancurkan sehingga menjadi debu yangbeterbangan   bagaikan   kapas,   dan  sebagainya.  Itu  semua merupakan kehancuran total, bukan kehancuran  bagian  tertentu saja dari alam raya ini.
Begitu  manusia  dihidupkan kembali dengan peniupan sangkakala kedua, tiba-tiba:
Sambil menundukkan pandangan, mereka keluar dari kubur mereka bagaikan belalang yang beterbangan. Mereka datang dengan cepat kepada penyeru itu. Orang-orang kafir -ketika itu- berkata: "Ini adalah hari yang sulit." (QS Al-Qamar [54]: 7-8).
Ada jarak waktu antara peniupan pertama dan kedua. Hanya Allah yang  mengetahui  kadar  waktu  itu.  Dan ketika semua makhluk telah meninggal, termasuk Israfil, Allah  Swt.  "berseru"  dan "bertanya":  “Kepunyaan siapakah kerajaan/kekuasaan hari ini? (Kemudian Allah menjawabnya sendiri): Kepunyaan Allah yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan" (QS Mu'min [40]:16).
Saat peniupan kedua, manusia sadar bahwa  kehidupan  di  dunia hanya  sebentar  (QS  Al-Isra'  [17]: 43), bahkan mereka merasa hanya bagaikan boberapa  saat  di  sore  atau  pagi  hari  (QS Al-Nazi'at [79]: 46).
Dari  sana manusia digiring ke mahsyar (tempat berkumpul untuk menghadapi pengadilan Ilahi):  Setiap jiwa datang dengan satu penggiring dan satu penyaksi” (QS Qaf [50]: 21).
Penggiring adalah malaikat dan penyaksi  adalah  diri  manusia sendiri yang  tidak  dapat  mengelak,  atau amal perbuatannya masing-masing. Begitu penafsiran para ulama.
Dan ketika itu terjadilah pengadilan agung.
Pada hari itu yang menjadi saksi atas mereka adalah lidah, tangan, dan kaki mereka, menyangkut apa yang dahulu mereka lakukan (QS Al-Nur [24]: 24).
Bahkan boleh jadi, mulut mereka ditutup dan yang berbicara adalah tangan  mereka  kemudian  kaki  mereka  yang  menjadi saksi-saksinya, sebagaimana ditegaskan dalam surat Ya Sin (36):65.
Yang   ingin   diinformasikan   oleh  ayat-ayat  di  atas  dan semacamnya adalah bahwa pada hari itu  tidak  ada  yang  dapat mengelak,  tidak ada juga yang dapat menyembunylkan sesuatu dihadapan pengadilan yang maha agung itu.
Siapa yang mengerjakan (walau) sebesar zarrah (dari kebaikan), maka dia akan melihat (ganjarannya) (QS Az-Zilzal [99]: 7).
Demikian pula sebaliknya (baca surat Al-Zilzal [99]: 8).
Pengadilan Ilahi itu akan  diadakan  terhadap  setiap  pribadi mukalaf,
"Tidak ada satupun di langit dan di bumi kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba. Sesungguhnya Tuhan telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti. Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah dengan sendiri-sendiri (QS Maryam [19]: 93-95)
Pengadilan itu menggunakan "timbangan" yang hak sehingga tidak ada  yang  teraniaya  karena walau sebesar biji sawi pun Tuhan akan mendatangkan ganjarannya. (Baca QS Al-Anbiyat [21]:  47).
Apakah timbangan itu sesuatu yang bersifat material atau hanya kiasan tentang keadilan mutlak,  tidaklah  banyak  pengaruhnya dalam  akidah, selama diyakini bahwa ketika itu tidak ada lagi sedikit penganiayaan pun. Yang pasti adalah:
Timbangan pada hari itu adalah kebenaran. Barangsiapa yang berat timbangan (amal salehnya) maka mereka adalah orang-orang beruntung, dan siapa yang ringan timbangan kebaikannya maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri disebabkan mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami (QS Al-A'raf [7]: 8-9)
Hasil pencatatan amal manusia yang ditimbang itu, akan diserahkan kepada setiap orang:
Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitab (catatan amalnya) dari arah kanannya, maka (dengan gembira) ia berkata: "Inilah, bacalah kitabku ini. Sesungguhnya (sejak dahulu di dunia) aku yakin bahwa sesungguhnya aku akan menemui hisab (perhitungan) atas diriku." Maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridhai; dalam surga yang tinggi, buah-buahannya dekat. (Kepada mereka dikatakan): "Makan dan minumlah dengan sedap dikarenakan amal-amal yang telah kamu kerjakan di hari-hari terdahulu (di dunia)." Adapun yang diberikan kepadanya kitabnya dari arah kirinya, maka dia berkata: "Aduhai, alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini), dan aku tidak mengetahui apa hisab (perhitungan) terhadap diriku. Aduhai, kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku sama sekali tidak memberi manfaat bagiku. Telah hilang kekuasaan dariku" (QS Al-Haqqah [69]: 19-29).
Dari mahsyar (tempat berkumpul),  manusia  menuju  surga  atau neraka.  Beberapa  ayat  dalam Al-Quran menginformasikan bahwa dalam perjalanan ke sana mereka melalui  apa  yang  dinamai  "shirath" .
Antarlah mereka (hai malaikat) menuju Shirath Al-Jahim (QS Al-Shaffat [37]: 23).
Dalam konteks pembicaraan tentang hari akhirat, Allah berfirman:  Dan jika Kami menghendaki, pastilah Kami hapuskan penglihatan mata mereka, lalu mereka berlomba-lomba (mencari) ash-shirath (jalan). Maka, bagaimana mereka dapat melihatnya? (QS Ya Sin [36]: 66).
Di sisi lain Allah menegaskan pula bahwa:  Dan tidak seorang pun di antara kamu kecuali melewatinya (neraka). Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan-Nya. Kemudian Kami menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim, di dalam neraka dalam keadaan berlutut (QS Maryam [19]: 71-72).
Berdasar ayat-ayat tersebut, sementara ulama berpendapat bahwa ada yang dinamai "shirath" -berupa jembatan yang harus dilalui setiap orang menuju  surga.  Di  bawah  jalan  (jembatan)  itu terdapat neraka dengan segala tingkatannya. Orang-orang mukmin akan melewatinya dengan kecepatan  sesuai  dengan  kualitas ketakwaan  mereka.  Ada  yang melewatinya bagaikan kilat, atau seperti angin berhembus, atau secepat lajunya kuda; dan ada juga  yang  merangkak,  tetapi  akhirnya  tiba juga. Sedangkan orang-orang kafir akan menelusurinya pula tetapi mereka  jatuh ke neraka di tingkat yang sesuai dengan kedurhakaan mereka.
Konon shirath itu lebih tipis dari rambut dan lebih tajam dari pedang, [kalimat dalam bahasa Arab]
Demikian kata Abu Sa'id sebagaimana diriwayatkan oleh  Bukhari dan Muslim.
Para  ulama khususnya kelompok Mu'tazilah yang sangat rasional menolak keberadaan shirath dalam pengertian material di  atas, lebih-lebih  melukiskannya  "dengan  sehelai  rambut  di belah tujuh".  Memang, melukiskannya  seperti  itu,  paling  tidak, bertentangan  dengan pengertian kebahasaan dari kata shirath. Kata tersebut berasal dari kata saratha yang  arti  harfiahnya adalah  "menelan".  Kata  shirath antara lain diartikan "jalan yang lebar", yang karena lebarnya maka seakan-akan ia  menelan setiap yang berjalan di atasnya.

Betapapun,  pada  akhirnya  hanya  ada  dua tempat, surga atau neraka.

Dr. M. Quraish Shihab, M.A.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tanda-tanda Ikhlas Seorang Hamba

1. Tidak mencari popularitas

2. Tidak rindu pujian dan tidak terkecoh pujian

3. Tidak silau dan cinta jabatan

4. Tidak diperbudak imbalan dan balas budi

5. Tidak mudah kecewa